PenaTerkini.co.id, Aceh – Suasana Desa Pante Peusangan, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh perlahan kembali bergeliat di awal pekan 2026. Di bawah langit sore yang cerah, warga mulai beraktivitas seperti biasa. Dari halaman sebuah mushola kecil, dengung mesin genset terdengar berpadu dengan tawa anak-anak yang kembali merasakan terang. Setelah berhari-hari hidup dalam kegelapan akibat banjir yang memutus aliran listrik, kehadiran genset dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama PT PLN (Persero) menjadi sumber cahaya sementara sekaligus harapan bagi masyarakat setempat.
Sebelumnya Banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh tidak hanya merendam permukiman, tetapi juga memutus jaringan listrik di daerah-daerah yang sulit dijangkau. Hingga kini, masih terdapat desa-desa yang terisolasi, di mana pengangkutan material dan peralatan PLN terkendala akses jalan, yang belum pulih sepenuhnya. Dalam situasi tersebut, Kementerian ESDM memberikan solusi sementara dengan pemberian bantuan 1.000 genset agar masyarakat di Aceh tetap memiliki akses listrik untuk kebutuhan dasar.
Di tengah suasana yang mulai berangsur hidup itu, Nirwa, seorang warga Desa Pante Peusangan, tidak dapat menahan tangis haru ketika bantuan genset tiba di lokasi dan siap menerangi malam di desanya. Baginya dan warga lain, listrik bukan sekadar penerangan, melainkan penopang aktivitas sehari-hari di tengah masa pemulihan.
“Alhamdulillah. Kami senang sekali. Terima kasih kepada Bapak Menteri ESDM dan PLN. Kami sangat senang menerima bantuan (genset) ini,” tuturnya dengan suara bergetar.
Kegembiraan serupa tidak hanya dirasakan Nirwa. Pengurus Musala Dusun Tanoh Rata, Desa Pante Peusangan, Muhammad Lidan, juga tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya. Ia mengisahkan bahwa sebelum kehadiran bantuan genset, warga sulit menjalani aktivitas ibadah khususnya pada malam hari tanpa penerangan.
“Semenjak ada masuk genset ini, alhamdulillah segala urusan (ibadah) bisa kita selesaikan. Lainnya adalah terkait penyebaran informasi, semuanya sudah terlaksana. Dan sekali lagi kami sebagai masyarakat sangat, sangat banyak berterima kasih,” ujarnya.
Kepala Desa Pante Peusangan, Samsudin, menjelaskan bahwa genset menjadi penopang utama aktivitas warga sembari menunggu jaringan listrik PLN dapat dipulihkan secara permanen.
“Dengan adanya genset ini, masyarakat tetap mendapat penerangan sementara, sebelum jaringan instalasi listrik PLN dapat diselesaikan. Atas nama pemerintah desa dan masyarakat, kami mengucapkan terima kasih kepada Kementerian ESDM, PLN, dan semua pihak yang telah membantu,” katanya.
Cerita serupa datang dari Desa Riseh Tunong, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara. Kepala Desa Riseh Tunong, Abdurrahman menyampaikan bahwa bantuan genset ini sangat membantu warga di wilayah yang masih terisolasi dan belum sepenuhnya terjangkau jaringan listrik.
“Genset ini kami manfaatkan untuk penerangan fasilitas umum, masjid, pesantren, hingga lokasi pengungsian. Alhamdulillah, sekarang penerangan bisa menyala dan masyarakat merasa lebih aman,” jelasnya.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa secara sistem, kelistrikan di Aceh telah kembali terhubung. Namun, tantangan masih terjadi pada jaringan distribusi, terutama di wilayah dengan akses terbatas dan infrastruktur yang rusak atau masih tergenang air.
“Secara tegangan tinggi sudah terhubung, tetapi jaringan rendah masih ada yang belum bisa dimasuki karena akses dan infrastruktur. Atas arahan Bapak Presiden, kami bersama PLN mengoptimalkan kekuatan negara dengan menyalurkan 1.000 unit genset sebagai solusi sementara bagi masyarakat,” ujar Bahlil saat pelepasan bantuan 1.000 genset di Jakarta, Sabtu (27/12/2025) lalu.






