“Masalah kapasitas dan kapabilitas manusia tidak diragukan. Sekarang tinggal menunggu keputusan pemerintah,” katanya.
Sementara itu, General Manager PLN Puslitbang Mochamad Soleh mengatakan sosialisasi Awareness Nuklir ini akan dilakukan berkeliling ke kampus-kampus strategis di Indonesia, termasuk Jawa Timur yang dinilai memiliki kekuatan budaya teknologi dan akademik yang kuat.
“Ini bagian dari capacity building dan awareness. Kompetensi operator PLTN di Indonesia masih terbatas, sehingga perlu fast track penyiapan SDM,” kata Soleh.
Ia menyebut satu unit PLTN membutuhkan sekitar 200 tenaga inti, di luar tenaga pendukung. Dalam rencana awal, PLTN pertama ditargetkan berkapasitas total 500 megawatt di dua lokasi, yakni Kalimantan Barat dan Bangka Belitung.
Dukungan juga datang dari ITS. Wakil Rektor IV ITS Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Kealumnian Prof. Agus Muhamad Hatta menilai pembangunan PLTN menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi perguruan tinggi.
“PLTN itu multidisiplin. Tidak hanya teknik nuklir, tapi juga elektro, mesin, fisika, keselamatan, hingga otomasi. ITS siap terlibat dalam penyiapan SDM dan risetnya,” kata Agus.
Ia membuka peluang ITS dan kampus lain di Indonesia mengembangkan program studi yang lebih spesifik terkait pembangkit nuklir di masa depan.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi, praktisi, dan regulator, termasuk perwakilan BAPETEN. Seperti Prof. Dr. Eng. Rony Seto Wibowo, S.T., M.T., IPU dari ITS, Ir. Heru Sriwidodo, M.M., IPU selaku konsultan dan trainer, Deputi Bidang Pengkajian Keselamatan Nuklir BAPETEN Haendra Subekti, S.T., M.T., serta Dosen dan Peneliti Teknik Nuklir Prof. Dr. Ir. Anhar Riza Antariksa, S.T., DEA, IPU.
Sosialisasi serupa direncanakan berlanjut ke berbagai daerah, termasuk komunitas masyarakat dan pesantren, guna memperluas diskursus publik terkait energi nuklir di Indonesia. (red)






