“Peralatannya akan kami bawa dan diserahkan ke sekolah. Jadi pada kelas berikutnya, siswa bisa langsung menggunakan peralatan yang diberikan,” tegasnya.
Selain PLTS, ITPLN juga mengajarkan konsep waste to energy yang meliputi pengelolaan sampah, proses pengolahan, hingga pemanfaatannya sebagai sumber energi terbarukan.
“Di sekolah, siswa diajarkan bagaimana mengolah sampah, prosesnya seperti apa, dan hasil apa yang bisa dimanfaatkan. Ini bukan hanya membantu energi terbarukan, tetapi juga pengurangan sampah,” ucap Suharto.
Ia berharap program tersebut dapat meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap energi bersih dan mendorong penerapannya di lingkungan sekitar.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMAN 5 Surabaya, Sukirin Wikanto, S.Pd., M.Pd, menyambut positif kolaborasi tersebut. Ia menyebut sekolahnya sebenarnya telah memiliki fasilitas PLTS, namun belum dimanfaatkan secara optimal.
“Di area parkir utara sebenarnya sudah ada atap dengan PLTS. Tapi efektivitas dan kemanfaatannya belum pernah dikaji secara serius. Dengan pendampingan dari ITPLN dan praktisi PLN, ini jadi momentum pembelajaran nyata bagi siswa dan guru,” kata Sukirin.
Menurutnya, program ini bukan hanya soal infrastruktur energi, tetapi juga membuka wawasan karier bagi siswa.
“Anak-anak yang suka teknik akan mendapatkan ilmu dasar tentang PLTS, tentang dunia kelistrikan, dan peluang kerja di sektor energi. Ini bisa jadi bagian dari penemuan passion mereka,” tegasnya.
Sukirin berharap kerja sama ini tidak berhenti pada program dua bulan, tetapi berlanjut sebagai kemitraan jangka panjang.
“Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut. PLTS yang ada akan dikaji ulang agar manfaatnya benar-benar dirasakan sekolah. Semoga anak-anak terinspirasi dan punya masa depan di sektor energi,” pungkasnya.
Program ini menjadi bagian dari upaya strategis ITPLN dan PLN dalam membangun literasi energi terbarukan sejak bangku SMA, sekaligus menyiapkan generasi muda sebagai generasi transisi energi nasional menuju masa depan Net Zero Emission.*






