Prof. Iwa mengakui tantangan nuklir tidak berhenti pada aspek teknis. Indonesia membutuhkan ahli nuklir yang banyak. Di sisi lain, program pendidikan terkait nuklir juga belum terintegrasi. Program akademik ITPLN bisa diakses melalui laman resmi www.itpln.ac.id.
“Dan isu penerimaan publik terhadap PLTN juga harus dijawab,” tegasnya.
Program pelatihan ini dibuka dengan pertemuan kehormatan bersama Wakil Duta Besar Indonesia untuk Jepang, Maria Renata Hutagalung, dilanjutkan seremoni pembukaan yang menghadirkan perwakilan pemerintah Jepang, Amerika Serikat, dan Indonesia.
Dalam kesempatan itu, Prof. Iwa didampingi Ketua Global Institute for Nuclear Energy and Sustainable Development (GINEST) ITPLN Agus Puji Prasetyono, Sekretaris Jenderal GINEST Nadia Paramita, serta Pembina GINEST ITPLN, Prof. Syamsir Abduh dan Tim Ahli GINEST, Tarwaji Warso.
Hadir juga Presiden AOTS Yasuhiko Yoshida serta Presiden JAIF & JICC Hideki Masui, disusul perwakilan KBRI Tokyo. Acara ini melibatkan pejabat Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI), Kedutaan Besar AS di Tokyo, serta Departemen Luar Negeri AS (US-DOS).
Deputi Direktur METI Eimitsu Abe memaparkan arah kerja sama nuklir Jepang, sementara penasihat program US-DOS Jonathan J. Henkin menjelaskan peluang kolaborasi SMR Jepang–AS melalui program FIRST.
Diskusi utama menyoroti status dan tantangan pengembangan energi nuklir Indonesia dalam kerangka Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2024–2060. Anggota Dewan Akademik Dewan Energi Nasional, Agus Puji Prasetiyono, menekankan pentingnya kesiapan kebijakan, regulasi, serta penguatan SDM sebagai prasyarat pemanfaatan SMR.
Sejumlah perwakilan pemerintah, BUMN ketenagalistrikan, dan akademisi Indonesia menilai SMR berpotensi menjadi sumber energi rendah karbon untuk memperkuat ketahanan energi nasional, dengan catatan penerapan standar keselamatan dan tata kelola yang ketat.
Sebagai perguruan tinggi yang fokus pada transisi energi, ITPLN menyatakan kesiapan mengambil peran strategis dalam penyusunan peta edukasi nuklir nasional. Bahkan, ITPLN akan berkolaborasi dengan Japan Atomic Energy Commission (JAEC) serta Tokyo University dalam menyiapkan SDM nuklir di Indonesia. (red)





